ALAS PURWO BANYUWANGI

Rv taman nasional oleh Kementerian Kehutanan. Wilayah Taman Nasional Alas Purwo ini masuk ke dalam dua kecamatan sekaligus, yaitu Kecamatan Tegaldlimo dan Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi.
Nama Alas Purwo sendiri memiliki arti hutan pertama atau hutan tertua di Pulau Jawa. Istilah Purwo dalam Bahasa Jawa berarti kawitan atau permulaan, sehingga Alas Purwo berarti hutan pertama atau hutan tertua di Pulau Jawa. Alas Purwo dipandanga sebagai situs penciptaan pertama di bumi, tanah awal mula. Bagi masyarakat Banyuwangi, tempat ini dikenal sangat angker dan dikeramatkan. Penduduk sekitar percaya di Alas Purwo terdapat istana jin yang menjadi tempat bagi seluruh jin yang ada di Pulau Jawa berkumpul. Warga sekitar sering melihat penampakan-penampakan makhluk halus. Hal ini diperkuat dengan kondisi alam setempat yang berupa hutan yang masih perawan, banyaknya gua, dan terdapat sejumlah situs-situs yang seringkali dijadikan tempat pelaksanaan beragam ritual kepercayaan dan keagamaan. Hal ini tidak bisa dilepaskan dari legenda bahwa Alas Purwo merupakan tempat terakhir dari pelarian rakyat Majapahit dari desakan penyebaran Agama Islam pada masanya.
Setiap tahun ratusan bahkan ribuan umat Hindu dari Bali dan Banyuwangi mengunjungi sebuah pura yang terletak di tengah Alas Purwo. Sedangkan setiap tanggal 1 Suro dan saat bulan purnama, banyak warga yang datang ke Alas Purwo untuk bersemedi, mencari wangsit atau sekadar lelaku gaib. Sehingga banyak yang meyakini, Alas Purwo adalah tempat yang paling angker di Pulau Jawa.
Jalan menuju Alas Purwo.
Hutan di kawasan Alas Purwo menjadi salah satu perwakilan ekosistem hutan hujan dataran rendah yang ada di Pulau Jawa. Kawasan ini memiliki sedikitnya 6 ekosistem, yaitu hutan bambu, hujan pantai, hutan mangrove, hutan alam, hutan tanaman dan padang rumput. Hutan bambunya mendominasi sekitar 40% kawasannya.
Sebagai hutan hujan, TNAP menjadi tempat yang ideal bagi beragam flora dan fauna di dalamnya. Setidaknya terdapat 13 jenis bambu serta 580 jenis tumbuhan yang terdiri dari rumput, herba, semak, liana dan pepohonan. Diantaranya adalah pohon jati, sawo kecik, dan bambu.
Disamping kekayaan flora, Alas Purwo juga kaya akan jenis fauna daratan, baik kelas mamalia, aves dan herpetofauna (reptil dan amfibi). Ditemukan 50 jenis mamalia hidup di Alas Purwo. Beberapa jenis mamalia yang ada di sana adalah banteng (Bos javanicus), rusa (Cervus timorensis), ajag (Cuon alpinus), babi hutan (Sus scrofa), kijang (Muntiacus muntjak), macan tutul (Panthera pardus), lutung (Tracypithecus auratus), monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) jelarang (Ratufa bicolor), rase (Vivericula indica), linsang (Prionodon linsang), luwak (Paradoxurus hermaprhoditus), garangan (Herpestes javanicus), kucing hutan (Felis bengalensis), dan burung merak. Selain itu terdapat beragam spesies penyu bersemayam di TNAP ini.
Jika beruntung, hewan-hewan tersebut bisa anda saksikan secara bebas berkeliaran di pinggir jalan yang terdapat di dalam kompleks Alas Purwo.
Untuk mencapai Taman Nasional Alas Purwo, Anda bisa memilih rute Banyuwangi kota menuju ke Kecamatan Rogojampi-Srono-Muncar-Tegaldlimo. Dari Tegaldlimo sekitar 10 km melalui jalan makadam, Anda akan menemukan Pos Rawabendo, yang merupakan gerbang utama Taman Nasional Alas Purwo.
Jika Anda datang dari arah Jember, maka Anda harus menuju Kecamatan Genteng sejauh 65 km, lalu dilanjutkan menuju Jajag sejauh 15 km. Rute selanjutnya adalah Jajag-Srono-Muncar-Tegaldlimo-Alas Purwo.
Perjalanan menuju Taman Nasional Alas Purwo bisa ditempuh menggunakan kendaraan pribadi, baik sepeda motor maupun mobil. Alternatif lain adalah menyewa mobil, karena tidak ada kendaraan umum yang memiliki trayek sampai Alas Purwo. Dari Banyuwangi kota diperlukan waktu tempuh sekitar 2 jam untuk mencapai gerbang Alas Purwo.
Pintu masuk Alas Purwo, pengunjung melapor dan membayar retribusi.
Di Pos Rowo Bendo tersebut pengunjung melapor sekaligus membayar retribusi resmi sebesar Rp 5 ribu untuk wisatawan nusantara dan Rp 150 ribu untuk wisatawan asing. Retribusi ini akan masuk ke kas negara sebagai Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang dikelola oleh Balai Taman Nasional Alas Purwo, dibawah Kementerian Kehutanan.
Jalan pertigaan dekat Pos Rawa Bendo menuju situs Kawitan, Sadengan, Pantai Trianggulasi, dan Pantai Ngagelan.
Meskipun terkesan angker dan memiliki kesan magis, sebenarnya Alas Purwo merupakan tempat yang menarik untuk berwisata. Anda bisa mencoba menelusuri hutan Alas Purwo yang menyimpan lokasi wisata yang lengkap bagi pecinta alam, menjelajah hutan nan asri, mengamati tumbuhan nan kaya jenis maupun bentuknya. Ada pula wisata pantai yang menakjubkan, berselancar dan juga wisata ziarah atau wisata budaya.
Di Taman Nasional Alas Purwo terdapat sejumlah lokasi favorit yang bisa Anda kunjungi, yaitu :
SADENGAN
Penunjuk arah ke Sadengan
Berwisata ke Taman Nasional Alas Purwo jangan sampai melewatkan mampir ke Sadengan, yang jaraknya hanya sekitar 2 kilometer dari pintu masuk Pos Rawa Bendo. Sadengan merupakan padang savana membentang seluas 84 hektar yang berada pada Taman Nasional Alas Purwo. Berada di Sadengan seakan-akan Anda seperti berada di Afrika. Di sini Anda akan menjumpai kawanan satwa liar, seperti Sapi, Banteng Jawa, Rusa, sampai burung merak yang lagi bergerombol dan berkeliaran bebas di Sadengan. Ada juga anjing hutan alias Ajag. Anda akan merasa terkagum-kagum saat melihat pemandangan alam Sadengan.
Untuk memberi keleluasaan bagi para pengunjung di Sadengan didirikan menara pandang dari kayu dengan tiga lantai. Pengunjung bisa menaiki menara dan melihat kehidupan aneka satwa di alam bebas. Hal ini karena pengunjung dilarang memasuki padang savananya. Tujuannya selain untuk melindungi habitat satwa-satwa di sana, juga demi keselamatan pengunjung juga. Hanya tim peneliti dan konservasi yang diijinkan masuk ke padang savana.
Namun pengunjung masih bisa menikmati hamparan padang savana nan luas dari balik pagar pembatas atau naik ke atas menara pandang untuk melihatnya dari ketinggian.
Bila Anda ingin memotret lebih dekat banteng atau rusa di alam liar tersebut yang lagi berjemur atau mencari rumput, mintalah bantuan kepada petugas untuk mengantarkan Anda memasuki padang savana.
Anda bisa naik mobil atau sepeda motor untuk tiba di Sadengan. Sebaiknya pakai mobil jeep, karena jalanan menuju ke Sandengan masih alami dan berupa bebatuan tanpa aspal yang mulus.
Luas Sandengan mencapai 84 hektar. Tak hanya melihat dari luar pagar, wisatawan juga bisa masuk ke dalam pagar dan menjelajahi padang savana yang luas ini dengan berjalan kaki.
Saat cahaya matahari sedang terik-teriknya, saat itulah pemandangan ala Afrika terpampang jelas di depan mata.
Anda dapat melihat kawanan banteng jawa dari jarak sekitar 20 meter. Meski begitu, Anda bakal melihat jelas banteng jawa yang berwarna hitam dengan tanduk runcing berbentuk ‘U’.
Banteng jawa atau bos javanicus yang hitam adalah banteng jantan. Sedangkan satu lagi yang berwarna cokelat, adalah banteng betina. Tahun 2012 ada sekitar 125 ekor populasi banteng Jawa di Sandengan.
Kawanan rusa juga terlihat jelas di Sandengan. Mereka lebih sensitif terhadap manusia, sehingga lebih cepat lari kalau Anda mencoba mendekat.

Leave a comment

Design a site like this with WordPress.com
Get started
close-alt close collapse comment ellipsis expand gallery heart lock menu next pinned previous reply search share star